Kamis, 09 Mei 2013

MENGATASI KEMACETAN

Sudah saatnya Jakarta melakukan perubahan masalah kemacetan. Perubahannya harus cepat bahkan extra cepat. Jakarta harus membuat transportasi masal dengan tarif murah dan aman serta senyaman mungkin. 
Sekarang sudah ada bus way. Tapi bus way seperti itu aja dari awal berdiri. Penuh sesak. Jarak antar armada jauh. Perbaikannya Armada harus banyak. Beroperasi 24 jam. Halte di perbanyak. Keamanan di perbaiki.
Jalanan Jakarta sudah tidak sesuai dengan jumlah kendaraan. Jumlah kendaraan bertambah setiap hari tapi lebar jalan raya serta panjang jalan raya tidak ada perubahan. 
Contoh-contoh Perubahan : 
-Pemerintah membuat jalur-jalur khusus dimana mobil dan motor tidak boleh masuk sepanjang hari. Yang boleh hanya sepeda, taxi dan bus way. Kalau di buat seperti itu bagusnya jalan-jalan utama Sudirman, Thamrin, Kota, Kuningan, Gatot subroto,dll. Membuat penghijauan sepanjang jalan tersebut dengan trotoar rapi dan bersih serta membuat cafe-cafe kecil sepanjang jalan dengan harga murah. Jadi masyarakat Jakarta yang bekerja dan tinggal di kawasan tersebut menjadi nyaman dan betah. Bus way dan taxi yang melewati jalan tersebut harus baik emisi gas buangnya. Keamanan terjaga dengan menempatkan polisi atau CCTV pada titik-titik tertentu.  Para pekerja yang bekerja di sepanjang jalur tersebut PP menggunakan bus way, taxi atau sepeda. 
-Membuat tiket masuk jalan Jakarta bagi kendaraan dari luar Jakarta. Seperti Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, Dll. Ada pos-pos khusus di perbatasan. 
-Membuat jalan bertingkat.
- Membuat bus tingkat.
- Menaikan pajak kendaraan.
-.Bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk membuka lapangan pekerjaan dan pembangunan infrastruktur.
-Membuat peraturan setiap rumah/keluarga hanya boleh memiliki 1 mobil dan 1 motor. Sepeda boleh banyak. Sebelum membeli mobil/motor harus buat ijin terlebih dahulu.
- Bekerja sama dengan mall, perumahan, sekolahan untuk membuat bus-bus khusus, misal bus mall, apartemen-apartemen, perumahan Gading, Puri, Pondok Indah, dll.
- Membuat tream/kereta listrik dalam kota.
- Membuat jaringan internet super cepat sehingga pekerja-pekerja dapat bekerja di rumah tanpa harus datang ke kantor, pasar online, dll.
- Mengurangi penduduk Jakarta.
- Membuat kota Jakarta sebagai kota Wisata. Perkantoran dan pabrik pindah ke luar Jakarta
- Dll

Semoga bermanfaat bagi pemerintah Jakarta.
 
 

GAYA MELAYANG PADA KENDARAAN

Banyak sekali kecelakan kendaraan bermotor khususnya mobil di beritakan lewat media. Kecelakaan ini terjadi di jalan tol. Di jalan tol para pengemudi dengan leluasa memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi melebihi kecepatan yang diijinkan oleh pengelola jalan tol. Para pengemudi tidak memperhatikan lagi rambu-rambu dan spesifikasi kendaraan yang dipergunakan untuk ngebut di jalan tol. Apalagi pengemudinya masih muda yang memiliki jiwa muda tinggi dan suka tantangan. Ngebut di jalan tol boleh saja asalkan spesifikasi kendaraan yang digunakan sesuai. Sebagai contoh mobil bermesin kecil dengan bodi kecil. Memang teknologi sekarang walaupun mesin kecil tapi tenaganya besar. Bodi kendaraan kecil tidak dirancang untuk melaju dengan kecepatan tinggi terkecuali kendaraan sport. Yang akan terjadi bila mobil kecil di pacu dengan kecepatan tinggi adalah mobil melayang sehingga mobil sulit untuk dikendalikan (oleng).  Mobil sulit dikendalikan karena adanya gaya angkat oleh angin sehingga beban mobil jadi berkurang (mobil melayang) serta gaya gesek ban terhadap aspal jadi berkurang. Di bawah ini gambar ilustrasi mobil yang mengalami gaya angkat oleh angin.  


Berikut tabel berkurangnya beban kendaraan mulai dari kecepatan        0 s/d 200 km/jam (ilustrasi), yaitu :

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa beban mobil akan berkurang sesuai dengan kecepatan kendaraan. Jadi para pengemudi harus lebih berhati-hati dalam memacu kendaraannya. Harus ingat batas kecepatan yang diijinkan dan spesifikasi kendaraan termasuk harus ingat keluarga yang menunggu di rumah. Jalan tol bukan untuk balapan. Tempat balapan sudah disediakan oleh pemerintah yaitu serkuit sentul.